Mengenal Penyakit Sifilis dan Gejalanya
Mengenal Penyakit Sifilis dan Gejalanya
Mengenal penyakit sifilis dan gejalanya sangat penting bagi masyarakat luas karena penyakit ini termasuk dalam kategori infeksi menular seksual (IMS) yang masih sering terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sifilis dikenal sebagai penyakit yang dapat berkembang secara bertahap dan sering kali tidak disadari pada tahap awal karena gejalanya yang ringan atau bahkan tidak menimbulkan rasa sakit.
Sifilis bukanlah penyakit baru. Penyakit ini telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dan pernah menjadi wabah besar di berbagai belahan dunia. Meskipun saat ini pengobatan sifilis sudah tersedia dan efektif, keterlambatan diagnosis masih sering terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang tanda dan gejalanya.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai sifilis, mulai dari pengertian, penyebab, cara penularan, tahapan gejala, komplikasi, diagnosis, pengobatan, hingga langkah pencegahan. Dengan memahami penyakit ini secara komprehensif, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan segera melakukan pemeriksaan jika mengalami gejala yang mencurigakan.
Apa Itu Penyakit Sifilis?
Sifilis adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini umumnya menyebar melalui kontak seksual, baik vaginal, anal, maupun oral dengan orang yang terinfeksi. Selain itu, sifilis juga dapat ditularkan dari ibu hamil kepada janin yang dikandungnya, yang dikenal sebagai sifilis kongenital.
Sifilis sering disebut sebagai “the great imitator” atau peniru ulung karena gejalanya bisa menyerupai berbagai penyakit lain. Inilah yang membuat penyakit ini kerap tidak terdeteksi pada tahap awal.
Tanpa pengobatan yang tepat, sifilis dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan menyerang berbagai organ tubuh seperti otak, jantung, dan sistem saraf.
Penyebab Sifilis

Penyebab utama sifilis adalah infeksi bakteri Treponema pallidum. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui luka kecil atau lecet pada kulit atau selaput lendir, biasanya di area genital, anus, atau mulut.
Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan tertular sifilis antara lain:
-
Melakukan hubungan seksual tanpa kondom.
-
Memiliki lebih dari satu pasangan seksual.
-
Memiliki riwayat infeksi menular seksual lainnya.
-
Berhubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi.
-
Pria yang berhubungan seksual dengan sesama pria (MSM).
-
Ibu hamil yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan rutin.
Penting untuk diingat bahwa sifilis tidak menular melalui kontak biasa seperti berjabat tangan, berbagi alat makan, atau menggunakan toilet yang sama.
Cara Penularan Sifilis
Sifilis ditularkan melalui kontak langsung dengan luka sifilis yang disebut chancre. Luka ini biasanya muncul di area genital, anus, atau mulut.
Beberapa cara penularan sifilis meliputi:
1. Hubungan Seksual
Penularan paling umum terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman dengan orang yang terinfeksi.
2. Penularan dari Ibu ke Janin
Ibu hamil yang terinfeksi sifilis dapat menularkan penyakit ini kepada bayinya melalui plasenta selama kehamilan atau saat persalinan.
3. Kontak Langsung dengan Luka Terbuka
Jika seseorang menyentuh luka sifilis yang aktif, bakteri dapat masuk melalui luka kecil di kulit.
Sifilis tidak menular melalui sentuhan biasa, berbagi pakaian, atau duduk di kursi yang sama.
Tahapan dan Gejala Penyakit Sifilis

Salah satu alasan pentingnya mengenal penyakit sifilis dan gejalanya adalah karena penyakit ini berkembang dalam beberapa tahap. Setiap tahap memiliki gejala yang berbeda.
1. Sifilis Primer
Tahap pertama disebut sifilis primer. Gejala utama adalah munculnya luka kecil yang disebut chancre di tempat bakteri masuk.
Ciri-ciri luka sifilis primer:
-
Tidak terasa sakit.
-
Berbentuk bulat.
-
Berukuran kecil.
-
Biasanya muncul 10–90 hari setelah terinfeksi.
-
Sembuh sendiri dalam 3–6 minggu.
Karena tidak menimbulkan rasa sakit, banyak orang tidak menyadari adanya luka ini.
2. Sifilis Sekunder
Jika tidak diobati, sifilis berkembang ke tahap sekunder. Gejala biasanya muncul beberapa minggu setelah luka primer sembuh.
Gejala sifilis sekunder meliputi:
-
Ruam kulit, terutama di telapak tangan dan kaki.
-
Demam ringan.
-
Sakit tenggorokan.
-
Pembengkakan kelenjar getah bening.
-
Rambut rontok sebagian.
-
Nyeri otot.
-
Kelelahan.
Ruam sifilis biasanya tidak gatal dan dapat hilang sendiri meskipun infeksi masih ada dalam tubuh.
3. Sifilis Laten
Tahap laten adalah fase tanpa gejala. Infeksi tetap ada dalam tubuh, tetapi penderita tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit.
Tahap ini bisa berlangsung bertahun-tahun. Tanpa pengobatan, sekitar sepertiga penderita akan berkembang ke tahap berikutnya.
4. Sifilis Tersier
Sifilis tersier adalah tahap paling berbahaya dan dapat terjadi 10–30 tahun setelah infeksi awal.
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
-
Kerusakan otak (neurosifilis).
-
Gangguan jantung.
-
Kerusakan pembuluh darah.
-
Kelumpuhan.
-
Gangguan penglihatan.
-
Demensia.
Pada tahap ini, kerusakan organ bisa bersifat permanen.
BACA JUGA : 5 Cara Mengatasi Anemia Secara Alami dan Medis untuk Hidup Lebih Sehat
Sifilis Kongenital

Sifilis kongenital terjadi ketika ibu hamil menularkan infeksi kepada bayinya. Kondisi ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan:
-
Keguguran.
-
Bayi lahir mati.
-
Cacat lahir.
-
Gangguan perkembangan.
-
Masalah tulang dan gigi.
Karena itu, pemeriksaan sifilis rutin selama kehamilan sangat penting.
Diagnosis Sifilis

Diagnosis sifilis dilakukan melalui:
1. Pemeriksaan Fisik
Dokter akan memeriksa luka atau ruam yang mencurigakan.
2. Tes Darah
Tes darah seperti VDRL atau RPR digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri sifilis.
3. Tes Cairan Luka
Pada tahap awal, sampel dari luka dapat diperiksa di laboratorium.
Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
Pengobatan Sifilis
Kabar baiknya, sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotik, terutama penisilin.
Pengobatan Berdasarkan Tahap:
-
Sifilis primer dan sekunder: Suntikan penisilin dosis tunggal biasanya cukup.
-
Sifilis laten atau tersier: Diperlukan beberapa dosis sesuai anjuran dokter.
Penting untuk:
-
Menyelesaikan seluruh pengobatan.
-
Tidak berhubungan seksual selama masa pengobatan.
-
Memberi tahu pasangan seksual untuk diperiksa.
Komplikasi Jika Tidak Diobati

Jika tidak ditangani, sifilis dapat menyebabkan komplikasi serius seperti:
-
Kerusakan sistem saraf.
-
Stroke.
-
Penyakit jantung.
-
Kebutaan.
-
Gangguan mental.
-
Kematian.
Infeksi sifilis juga meningkatkan risiko tertular HIV.
BACA JUGA : Pengaruh Instagram, TikTok dan Influencer terhadap Industri Fashion Modern
Pencegahan Sifilis
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:
-
Menggunakan kondom saat berhubungan seksual.
-
Tidak berganti-ganti pasangan.
-
Melakukan tes IMS secara rutin.
-
Menghindari hubungan seksual berisiko.
-
Pemeriksaan rutin ibu hamil.
Edukasi dan kesadaran menjadi kunci utama pencegahan.
Pentingnya Edukasi dan Kesadaran Masyarakat
Masih banyak stigma yang melekat pada penyakit menular seksual, termasuk sifilis. Hal ini membuat banyak orang enggan memeriksakan diri.
Padahal, semakin cepat didiagnosis, semakin mudah sifilis diobati. Kampanye edukasi yang tepat dapat membantu mengurangi angka penularan dan mencegah komplikasi serius.
Kesimpulan
Mengenal penyakit sifilis dan gejalanya merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah komplikasi serius. Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum dan berkembang dalam beberapa tahap, mulai dari sifilis primer hingga tersier.
Gejala awal sering kali tidak disadari, sehingga banyak kasus terlambat ditangani. Namun, dengan diagnosis dini dan pengobatan antibiotik yang tepat, sifilis dapat disembuhkan.
Pencegahan melalui perilaku seksual yang aman, pemeriksaan rutin, dan edukasi kesehatan sangat penting untuk menekan penyebaran penyakit ini.
Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat lebih waspada dan tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan apabila mengalami gejala yang mencurigakan.
