4 Dampak Rhinitis Alergi Kronis terhadap Pernapasan
4 Dampak Rhinitis Alergi Kronis terhadap Pernapasan
Rhinitis alergi kronis merupakan kondisi peradangan pada rongga hidung yang berlangsung dalam jangka panjang akibat reaksi alergi. Pemicunya beragam, mulai dari debu rumah, serbuk sari, bulu hewan, jamur, hingga polusi udara. Berbeda dengan rhinitis alergi musiman yang hanya muncul pada waktu tertentu, rhinitis alergi kronis dapat terjadi sepanjang tahun. Kondisi ini sering dianggap ringan karena gejalanya mirip flu biasa, seperti bersin, hidung tersumbat, dan pilek berair. Namun jika dibiarkan, rhinitis kronis dapat memberikan dampak signifikan terhadap sistem pernapasan secara keseluruhan.
Saluran pernapasan manusia merupakan satu kesatuan dari hidung hingga paru-paru. Gangguan yang terjadi di hidung dapat memengaruhi bagian pernapasan lain. Oleh karena itu, memahami dampak rhinitis alergi kronis terhadap pernapasan sangat penting agar penderita mendapatkan penanganan yang tepat. Berikut adalah empat dampak utama rhinitis alergi kronis terhadap sistem pernapasan.
1. Gangguan Pernapasan akibat Hidung Tersumbat

Dampak paling umum dari rhinitis alergi kronis adalah hidung tersumbat. Peradangan pada lapisan mukosa hidung menyebabkan pembengkakan pembuluh darah dan produksi lendir berlebihan. Akibatnya, aliran udara melalui hidung menjadi terbatas.
Ketika hidung tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik, penderita cenderung bernapas melalui mulut. Bernapas lewat mulut bukanlah mekanisme alami yang ideal karena udara tidak melewati proses penyaringan, penghangatan, dan pelembapan yang biasanya dilakukan oleh hidung. Udara yang masuk langsung ke saluran pernapasan bawah dalam kondisi kering dan dingin dapat mengiritasi tenggorokan serta bronkus.
Dalam jangka panjang, kebiasaan bernapas lewat mulut dapat menyebabkan tenggorokan kering, suara serak, batuk kronis, dan meningkatnya risiko infeksi saluran pernapasan. Selain itu, penderita sering merasa napas tidak lega, terutama saat beraktivitas fisik atau ketika tidur. Hal ini dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
BACA JUGA : 6 Dampak Rokok terhadap Sistem Pernapasan
2. Meningkatkan Risiko Sinusitis Kronis

Rhinitis alergi kronis memiliki hubungan erat dengan sinusitis. Sinus adalah rongga berisi udara di sekitar hidung yang terhubung melalui saluran kecil. Saat mukosa hidung meradang dan membengkak, saluran sinus dapat tersumbat, sehingga lendir tidak dapat keluar dengan baik.
Akumulasi lendir dalam sinus menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri atau jamur. Akibatnya, penderita rentan mengalami sinusitis kronis, yaitu peradangan sinus yang berlangsung lama dan berulang. Gejalanya meliputi tekanan di wajah, sakit kepala, nyeri di sekitar mata, serta post-nasal drip atau lendir yang mengalir ke tenggorokan.
Sinusitis kronis dapat memperburuk gangguan pernapasan karena penderita merasa hidung semakin tersumbat, napas menjadi berat, dan sering mengalami batuk akibat lendir yang menetes ke saluran napas bawah. Jika tidak diatasi, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi yang lebih serius pada sistem pernapasan.
3. Memicu atau Memperburuk Asma

Salah satu dampak paling penting dari rhinitis alergi kronis adalah hubungannya dengan asma. Konsep medis yang dikenal sebagai “united airway disease” menjelaskan bahwa saluran pernapasan atas dan bawah merupakan satu kesatuan. Artinya, peradangan di hidung dapat memengaruhi bronkus dan paru-paru.
Pada penderita rhinitis alergi kronis, paparan alergen tidak hanya memicu reaksi di hidung, tetapi juga dapat menyebabkan peradangan di saluran napas bawah. Hal ini meningkatkan risiko seseorang mengalami asma, atau memperburuk gejala asma yang sudah ada. Gejala seperti sesak napas, napas berbunyi (mengi), dan batuk malam hari dapat menjadi lebih sering terjadi.
Banyak penderita asma tidak menyadari bahwa rhinitis alergi yang tidak terkontrol dapat menjadi pemicu serangan asma. Oleh karena itu, mengendalikan rhinitis alergi kronis merupakan bagian penting dalam pengelolaan penyakit asma secara keseluruhan.
4. Gangguan Tidur dan Penurunan Kualitas Oksigenasi
Rhinitis alergi kronis sering menyebabkan hidung tersumbat lebih parah pada malam hari. Posisi berbaring membuat aliran darah ke rongga hidung meningkat, sehingga pembengkakan bertambah. Akibatnya, penderita mengalami kesulitan bernapas saat tidur.
Kondisi ini dapat menyebabkan dengkuran, tidur tidak nyenyak, dan sering terbangun karena merasa kekurangan napas. Pada beberapa kasus, rhinitis alergi kronis dapat berkontribusi pada sleep-disordered breathing atau gangguan pernapasan saat tidur.
Jika kualitas tidur terganggu, tubuh tidak mendapatkan oksigen optimal selama istirahat. Hal ini dapat menyebabkan kelelahan di siang hari, sulit konsentrasi, sakit kepala, serta menurunkan produktivitas. Pada anak-anak, gangguan tidur akibat rhinitis alergi kronis bahkan dapat memengaruhi tumbuh kembang dan prestasi belajar.
Kesimpulan
Rhinitis alergi kronis bukan sekadar “pilek biasa” yang bisa diabaikan. Peradangan yang berlangsung lama di rongga hidung dapat memberikan dampak luas terhadap sistem pernapasan. Mulai dari gangguan bernapas akibat hidung tersumbat, meningkatnya risiko sinusitis kronis, pemicu asma, hingga gangguan tidur dan penurunan kualitas oksigenasi tubuh.
Karena saluran pernapasan merupakan satu kesatuan, penanganan rhinitis alergi kronis harus dilakukan secara serius. Menghindari alergen pemicu, menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan pengobatan sesuai anjuran tenaga medis dapat membantu mengontrol gejala dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Dengan pengelolaan yang tepat, penderita rhinitis alergi kronis tetap dapat bernapas lega, tidur nyenyak, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang lebih baik.
BACA JUGA : Tren Fashion Pria Feminim 2026
